Orang Tua sebagai Mitra Guru dalam Pelaksanaan BDR PAI pada Masa Pandemi Covid 19

Kasus Covid 19 masih tetap tinggi sampai tahun ajaran baru 2020/2021. Berdasar sebaran korban, dapat dikelompokkan daerah zona hijau, kuning, oranye dan merah. Zona hijau artinya tidak ada kasus Covid 19, sedangkan zona merah berarti banyak kasus Covid 19. Hal ini, memunculkan kebijakan pembelajaran masa darurat.

Terbit siaran pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, nomor 210/Sipres/A6/VIII/2020 tentang  Pemerintah Umumkan Penyesuaian Keputusan Bersama Empat Menteri tentang Panduan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19, tetap masih ada daerah yang melakukan kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR), terutama Zona Merah.  Semua mata pelajaran disampaikan dari jarak jauh. Mata pelajaran agama Islam juga harus diterapkan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Perlu diingat, pendidikan agama tidak dapat lepas dari penanaman karakter religius. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sesuai Permendikbud nomor 20 tahun 2018, ada lima nilai utama yang saling berkaitan yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas yang terintegrasi dalam kurikulum.  Hal ini menguatkan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan karakter religius peserta didik.

Penguatan Pendidikan Karakter pada pendidikan formal diselenggarakan dengan mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan yang meliputi sekolah, keluarga dan masyarakat. PPK di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Hal ini dapat dilaksanakan, jika kondisi normal. Bagaimana pembelajaran jarak jauh Pendidikan Agama Islam di masa pandemi Covid 19, agar berlangsung efektif?

Pertama, guru menyiapkan PJJ secara teknis dan terkoordinir dengan materi yang sangat esensial. Contoh bila dalam semester itu, ada kompetensi dasar tentang sholat, maka untuk anak tingkat dasar, bisa diutamakan bacaan sholat benar, hafal dan melaksanakannya. Lebih esensial lagi, ada laporan setiap peserta didik melakukan sholat wajib tepat waktu, secara berjama’ah atau sendiri yang ditanda tangani oleh orang tua secara jujur. Penekanan orang tua yang jujur ini penting dilakukan, agar tertanam ke anak kesadaran sholat tanpa diingatkan. Pendekatan pada orang tua, diberitahu bahwa laporannya harap dilakukan secara jujur, karena laporan ini hanya sebagai pertimbangan. Nilai yang menentukan adalah, hasil pembiasaan di rumah, ketika sudah masuk sekolah tatap muka akan kelihatan. Kalau anak di rumah sudah terbiasa sholat Dhuhur tepat waktu, maka akan terlihat anak yang sudah biasa sholat tepat waktu dan anak yang ditanda tangani saja oleh orang tua walau sholatnya masih perlu pendampingan.

Guru menyiapkan insrumen pemantauan pelaksanaan sholat wajib maupun sunnah. Instrumen yang dibikin tidak terlalu rumit, yang penting dapat memantau kejujuran anak melaksanakan sholat dan kejujuran orang tua tanda tangan pada laporan.

Untuk murid tingkat dasar, guru menyiapkan bacaan sholat yang benar dengan direkam menggunakan voice note di WA, langsung bisa dikirim ketika orang tua kesulitan mendampingi. Guru juga bisa bikin tutorial gerakan sholat yang benar, untuk dilihat orang tua atau murid, sehingga tetap ada sumber belajar yang mudah didapat. Sekali waktu, guru bisa mengecek gerakan sholat, contoh minta anak mengirim foto posisi kaki ketika duduk antara dua sujud, duduk tahiyat awal maupun duduk tahiyat akhir.

Kedua, ada koordinasi dengan orang tua tentang teknis pelaksanaan BDR. Orang tua memberikan tanda tangan pada  laporan kegiatan ibadah anaknya, secara jujur. Bila anak melaksanakan sholat tepat waktu, maka orang tua tanda tangan dan memberi keterangan tepat waktu. Tetapi bila anak sholat tidak tepat waktu, seyogyanya orang tua melaporkan apa adanya. Jangan sampai terjadi, orang tua menutupi dengan cara menulis sholat tepat waktu padahal kenyataannya anak sholat tidak tepat waktu. Apalagi, anak tidak sholat, tapi pada laporan ditulis sholat tepat waktu.

Ketiga, penanaman karakter penting pada anak. Beberapa hal dapat ditimbulkan dari laporan yang jujur dari orang tua tentang pelaksanaan sholat. Anak akan berusaha melaksanakan sholat tepat waktu, karena orang tua akan menulis laporan apa adanya. Hal ini dapat meningkatkan sikap disiplin, jujur dan patuh kepada orang tua.

Anak terlatih sikap disiplin karena terbiasa berangkat sholat ketika terdengar kumandang adzan. Anak akan bersikap jujur menyontoh orang tua yang membuat laporan secara jujur. Patuh kepada orang tua, karena laporan dilakukan oleh orang tua apa adanya.

Kemitraan yang harmonis antara guru dan orang tua, sangat penting dalam Kegiatan BDR (belajar Dari Rumah) mata pelajaran PAI. Tidak ada halangan untuk belajar dan beribadah di masa Pandemi Covid 19. Kesuksesan anak merupakan hasil jerih payah orang tua dan gurunya, dimanapun berada. Anak sukses akan berkarya pada kegiatan yang positif, semoga menjadi ladang amal jariyah orang tua dan guru.

_____________

Oleh: Endang Mujiati

Pengawas Madrasah, Kementerian Agama Sidoarjo

Surel: endangm.ma@gmail.com

Telp: 085855193563

About Administrator

Check Also

SESUAIKAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH (PJJ) DENGAN KONDISI LINGKUNGAN SEKOLAH

SESUAIKAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH (PJJ) DENGAN KONDISI LINGKUNGAN SEKOLAH Masa pandemi yang disebabkan oleh virus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *